“Aduhh…,” teriakku kemudian bangun dari lamunan. Sakit rasanya saat jarum menusuk tulangku. Iya, aku sedang menjahit luka. Luka dihati yang
selama ini kubiarkan menganga.
Luka yang disebabkann oleh harap yang terjerat.
Tau kah kamu. Aku begitu ingin berada disampingmu. Membisikan rasaku. Jika perlu meneriakkannya didepan telingamu. Untuk menggaai harapku. Harapan untuk mu bisa sedikit menyadari adanya aku.
Luka yang disebabkann oleh harap yang terjerat.
Tau kah kamu. Aku begitu ingin berada disampingmu. Membisikan rasaku. Jika perlu meneriakkannya didepan telingamu. Untuk menggaai harapku. Harapan untuk mu bisa sedikit menyadari adanya aku.
Ah.. mengapa harapan dan bayangmu ini tidak mau pergi,
sejenak saja. Tidak cukupkah jeruji yang aku pasang untuk membatasi gerakmu
dipikiranku. Apakah Tuhan sengaja mengikatkan pikiran dan hatiku hanya padamu, sosok
yang bahkan belum tentu sadar adanya aku.
Jika memang benar aku sudah terpaut padamu, tidakkah cukup panjang tali yang
diikatkan Tuhan itu, untuk sejenak ku menjauh dari bayangmu. Aku harus ingat, bahwa
belum tentu kamu sadar, ada aku yang terikat padamu. Dan akupun harus ingat jika ini ikatan dari Tuhan, aku tak
berhak merubah rapal dzikir menjadi namamu.
Sudahlah, biar aku kembali menjahit luka. Sejenak tinggalkanlah aku, sayang. Biarkan aku tetap terpaut meronta,tanpa bayanganmu. Biarkan aku berdzikir
dan menaruh harapan hanya pada Tuhanku.
**
Mungkinkah hati ini salah, sudah terpaut pada sesuatu yang begitu menarik, yaitu kamu. Tahukah, jika ada sosok yang menyisipkan doa diakhir sujudnya untukmu.
Dia yang ingin mengubah aku dan kamu menjadi kita. Dan dia itu aku.
Jika kamu pikir aku gila. Kamu salah Sayang. Aku lebih dari itu. Tergila-gila. Pada sosokmu yang sering kupandang dari sudut ruang. Menyerap semua pesonamu, menyimpannya dikotak memoriku, untuk sesekali kuputar ketika rindu hadir menyapa.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar