
Senin, Agustus 24, 2009
Minggu, Agustus 23, 2009
damai..
Engkau yang letih mencari,
akan akhirnya menemukan dirimu tak lagi menunduk mencari.
Engkau akan menengadah ke langit,
karena langitlah tempat berkumpulnya wajah yang mencari.
Engkau meminta, telah lama meminta;
tetapi engkau belum menerima pemberian yang kau minta.
Engkau mencari, telah lama mencari;
tetapi engkau belum menemukan yang kau cari.
Dan dengan waktu yang berjalan lamban
dan berat dalam rasa mu,
semua yang kau minta dan semua yang kau cari –
mendidih lambat-lambat di dalam panasnya hatimu
yang mulai beku,
dan kegalauan mu menyeruak keluar
dari kepompong ketidak-sabarannya
untuk menjadi kegelisahan utama mu.
Kegelisahan utama mu adalah sebuah pertanyaan;
Mengapakah sulit bagi mu untuk merasa damai?
Dalam kegelisahan mu, engkau bertanya-tanya –
jika hidup ini sulit,
mengapakah ada orang yang hidupnya mudah?
Jika hidup ini ujian,
mengapakah ada orang yang mudah lulus?
Jika hidup ini sementara,
mengapakah kegelisahan dan penantian mu lama?
Jika hidup ini hanya mampir untuk minum,
mengapakah air tidak mendamaikan mu?
Dan setelah minum,
ke mana kah engkau akan berangkat?
Karena, jangankan sampai …,
merangkak pun engkau lambat.
Apakah engkau penting?
Apakah akan ada bedanya –
engkau ada atau tidak pernah ada?
Jika engkau penting,
mengapakah kemudahan tidak berpihak kepada mu
dalam upaya mu untuk menjadi pribadi yang penting?
Jika engkau diperhatikan,
mengapakah engkau sering harus berlaku yang
memalukan untuk menarik perhatian?
Jika ada tujuan yang penting bagi kehadiran mu
dalam kehidupan ini,
mengapakah sulit bagimu
menemukan arah yang menyemangati?
Dalam tengadah wajah mu ke langit,
hatimu menunduk sedih,
dan dengan getar gagu kelopak mata mu
yang menggantikan gerak bibir mu
dalam menyuarakan pedih hatimu,
engkau bertanya lambat-lambat …
Jika aku dicintai,
mengapakah aku demikian sedih?
Tidakkah aku pantas bagi sedikit perhatian?
Demikian kurang kah yang kurang pada ku,
sehingga aku harus memamerkan kekurangan ku,
untuk mengundang kasih sayang?
Masih kurang letih kah aku dalam penantian ku,
sehingga aku masih diminta menunggu?
Tidakkah aku berhak bagi sedikit kasih sayang?
Demikian terpinggirkan kah aku,
sehingga aku tidak terhitung?
Demikian salah kah aku,
sehingga aku pantas bagi pelupaan?
Lalu, siapa kah yang menyayangi ku?
Siapa kah yang akan memeluk ku?
Tidakkah mereka merasakan
pahitnya kesendirian ku yang senyap ini?
Aku tidak tahu mengapa aku menangis,
tetapi ke mana lagi aku bersandar
jika bukan kepada tangis ku?
Oh, tangan yang ramah …
Seandainya ini bukan hanya rasa yang kurindukan.
Lembutnya rasa telapak tangan
yang penuh kasih
menyentuh pipi ku yang yatim.
Bibir ku akan mengejarnya,
seperti mulut bayi yang haus.
Kudekap tangan itu,
kuciumi harum keramahannya.
Dan nafas ku bertanga-tangga
melalui bibir yang tak mampu terkatup –
meratapkan rasa syukur ke langit
untuk dia yang menemukan ku
dalam kesedihan kesendirian ku.
Seandainya ada orang di luar sana
yang hatinya penyayang.
Seandainya dia menemukan ku.
Dia pasti akan duduk dekat-dekat bersama ku.
Senyumnya yang ramah
mengijinkan aku untuk menangis haru.
Wajahnya yang mengerti,
mengubah pedih tangis ku
menjadi sejuknya sentuhan sutra
yang ditenun dari wangi melati.
Sesengguk tangis ku
menumpahkan semua sedih ku,
berserakan di antara kaki ku yang bisu tertidur.
Melolong aku dalam tangis ku,
bukan lagi karena kepedihan,
tetapi karena aku menikmati
bahwa tangisan orang yang menemukan kasih sayang
adalah tangisan yang berbahagia.
Aah … betapa tipisnya pemisah
antara tangis yang melukai dan tangis yang mengobati.
Aku baru hanya membayangkan kasih sayang,
tetapi pengertian itu telah mulai mewajarkan pedih ku,
karena mungkin saja
tangan yang ramah itu
sedang lebih bersedih daripada aku;
tetapi ini yang kuyakini sekarang,
jika dia bisa menyebabkan pengertian baik ku
dan menyebabkan aku menemukan pengobatan
dalam diriku sendiri untuk kepedihan ku,
dia tidak mungkin dibiarkan lama termangu
di dalam kepedihannya sendiri.
Tetapi, untuk pribadi seperti itu,
bahkan mungkin kepedihannya adalah kebahagiaannya,
karena dengan pedih hatinya –
dia mengerti betapa hati yang sedang bersedih –
membutuhkan uluran tangan yang ramah.
Oh …, sekarang aku mengerti …
Baru membayangkan saja –
bahwa ada tangan yang mengulur ramah kepada ku,
aku telah terangkat dari kesedihan ku,
tanpa betul-betul diangkat.
Aku lebih damai.
Ternyata,
aku bisa tetap merasa damai di atas semua kekurangan,
kelemahan, dan keterpinggiran ku.
Sekarang aku mengerti
bahwa tugas utama ku bukan untuk tidak kekurangan,
bukan untuk tidak lemah, dan bukan untuk diketengahkan;
tugas pertama ku
adalah untuk menjadi pribadi yang damai.
Damai jiwa ku adalah kekayaan ku yang pertama.
Jiwa yang damai adalah kekayaan yang utuh,
yang menjadi sandaran bagi semua kekayaan.
Jika jiwa ku damai,
aku tidak harus memenuhi semua aturan kekayaan
yang dipantaskan oleh orang lain untuk diri mereka.
Dengan jiwa yang damai,
aku menjadi cukup untuk diri ku sendiri,
dan apa pun yang kulakukan setelahnya
adalah untuk kebaikan orang lain.
Sekarang aku tersenyum.
Sekarang aku tahu,
bahwa kesedihan hatiku adalah jalan dari pinggir
untuk menduga-duga arah menuju kebahagiaan ku.
Dalam akal ku yang sekarang terbebas dari mimpi buruknya,
aku melihat bahwa pengertian ku
adalah jalan besar menuju kebahagiaan ku.
Dan dalam pengertian ku yang lebih menerima,
aku tahu bahwa keterbukaan hati
adalah satu-satunya jalan menuju kebahagiaan.
Sekarang aku mengetahui.
Tidak ada kesedihan yang akan berlama-lama
melemahkan ku.
Tidak ada kemarahan yang akan berliar-liar
mempermalukan diri ku.
Dan tidak ada kesombongan yang akan berpalsu-palsu
merendahkan ku.
Sekarang aku tahu.
Hanya orang yang tidak sepenuhnya tahu
yang masih membutuhkan keyakinan.
Dia yang tahu tidak perlu keyakinan,
apalagi diyakinkan.
Dia yang tahu – tahu.
Pengetahuan itu telah cukup baginya.
Dia yang tahu bahwa Tuhan itu ada, … tahu.
Jangan lagi berupaya meyakinkan orang yang tahu.
Tidak ada keyakinan yang lebih kuat
daripada pengetahuan.
Dia yang berpendidikan
tetapi masih membutuhkan peyakinan untuk yakin –
adalah orang yang belum berpengetahuan.
Aku sekarang tahu.
Maka kuat dan damai lah aku.
…….
Entah apa yang telah kau sebabkan pada ku,
tetapi sekarang
pertanyaan yang menjadi kegelisahan utama ku,
tidak lagi menyayat sepedih dulu.
Mengapakah sulit bagi ku untuk merasa damai?
…….
Aku sekarang menjadi heran,
mengapa dulu aku menangis dalam pertanyaan itu?
Ku tak tahu apa yang kau lakukan,
tetapi pembicaraan dengan mu ini
telah memindahkan ku dari lahan rintihan
ke taman pembahagiaan.
Aku berhutang kepada mu.
Aku ingin membayar mu,
tetapi bukan itu yang pantas bagi bayaran mu.
Engkau tak membutuhkan terima kasih ku,
karena engkau menemukan kebahagiaan mu
dalam kebaikan hidup ku.
Maka bayaran dari ku bukanlah bayaran bagi mu.
Dengannya
aku tidak akan pernah bisa membayar mu.
Tetapi aku terlalu berhutang.
Maka aku berjanji kepada Beliau
yang mempertemukan kita,
bahwa aku akan menjadikan diri ku bernilai
agar uluran tangan ku
mendamaikan saudara ku yang hatinya piatu
dalam kesedihannya.
Aku akan menjadikan diri ku pelaku,
pengundang, dan penyemangat
bagi kebaikan saudara-saudara ku.
Aku, pribadi yang damai.
akan akhirnya menemukan dirimu tak lagi menunduk mencari.
Engkau akan menengadah ke langit,
karena langitlah tempat berkumpulnya wajah yang mencari.
Engkau meminta, telah lama meminta;
tetapi engkau belum menerima pemberian yang kau minta.
Engkau mencari, telah lama mencari;
tetapi engkau belum menemukan yang kau cari.
Dan dengan waktu yang berjalan lamban
dan berat dalam rasa mu,
semua yang kau minta dan semua yang kau cari –
mendidih lambat-lambat di dalam panasnya hatimu
yang mulai beku,
dan kegalauan mu menyeruak keluar
dari kepompong ketidak-sabarannya
untuk menjadi kegelisahan utama mu.
Kegelisahan utama mu adalah sebuah pertanyaan;
Mengapakah sulit bagi mu untuk merasa damai?
Dalam kegelisahan mu, engkau bertanya-tanya –
jika hidup ini sulit,
mengapakah ada orang yang hidupnya mudah?
Jika hidup ini ujian,
mengapakah ada orang yang mudah lulus?
Jika hidup ini sementara,
mengapakah kegelisahan dan penantian mu lama?
Jika hidup ini hanya mampir untuk minum,
mengapakah air tidak mendamaikan mu?
Dan setelah minum,
ke mana kah engkau akan berangkat?
Karena, jangankan sampai …,
merangkak pun engkau lambat.
Apakah engkau penting?
Apakah akan ada bedanya –
engkau ada atau tidak pernah ada?
Jika engkau penting,
mengapakah kemudahan tidak berpihak kepada mu
dalam upaya mu untuk menjadi pribadi yang penting?
Jika engkau diperhatikan,
mengapakah engkau sering harus berlaku yang
memalukan untuk menarik perhatian?
Jika ada tujuan yang penting bagi kehadiran mu
dalam kehidupan ini,
mengapakah sulit bagimu
menemukan arah yang menyemangati?
Dalam tengadah wajah mu ke langit,
hatimu menunduk sedih,
dan dengan getar gagu kelopak mata mu
yang menggantikan gerak bibir mu
dalam menyuarakan pedih hatimu,
engkau bertanya lambat-lambat …
Jika aku dicintai,
mengapakah aku demikian sedih?
Tidakkah aku pantas bagi sedikit perhatian?
Demikian kurang kah yang kurang pada ku,
sehingga aku harus memamerkan kekurangan ku,
untuk mengundang kasih sayang?
Masih kurang letih kah aku dalam penantian ku,
sehingga aku masih diminta menunggu?
Tidakkah aku berhak bagi sedikit kasih sayang?
Demikian terpinggirkan kah aku,
sehingga aku tidak terhitung?
Demikian salah kah aku,
sehingga aku pantas bagi pelupaan?
Lalu, siapa kah yang menyayangi ku?
Siapa kah yang akan memeluk ku?
Tidakkah mereka merasakan
pahitnya kesendirian ku yang senyap ini?
Aku tidak tahu mengapa aku menangis,
tetapi ke mana lagi aku bersandar
jika bukan kepada tangis ku?
Oh, tangan yang ramah …
Seandainya ini bukan hanya rasa yang kurindukan.
Lembutnya rasa telapak tangan
yang penuh kasih
menyentuh pipi ku yang yatim.
Bibir ku akan mengejarnya,
seperti mulut bayi yang haus.
Kudekap tangan itu,
kuciumi harum keramahannya.
Dan nafas ku bertanga-tangga
melalui bibir yang tak mampu terkatup –
meratapkan rasa syukur ke langit
untuk dia yang menemukan ku
dalam kesedihan kesendirian ku.
Seandainya ada orang di luar sana
yang hatinya penyayang.
Seandainya dia menemukan ku.
Dia pasti akan duduk dekat-dekat bersama ku.
Senyumnya yang ramah
mengijinkan aku untuk menangis haru.
Wajahnya yang mengerti,
mengubah pedih tangis ku
menjadi sejuknya sentuhan sutra
yang ditenun dari wangi melati.
Sesengguk tangis ku
menumpahkan semua sedih ku,
berserakan di antara kaki ku yang bisu tertidur.
Melolong aku dalam tangis ku,
bukan lagi karena kepedihan,
tetapi karena aku menikmati
bahwa tangisan orang yang menemukan kasih sayang
adalah tangisan yang berbahagia.
Aah … betapa tipisnya pemisah
antara tangis yang melukai dan tangis yang mengobati.
Aku baru hanya membayangkan kasih sayang,
tetapi pengertian itu telah mulai mewajarkan pedih ku,
karena mungkin saja
tangan yang ramah itu
sedang lebih bersedih daripada aku;
tetapi ini yang kuyakini sekarang,
jika dia bisa menyebabkan pengertian baik ku
dan menyebabkan aku menemukan pengobatan
dalam diriku sendiri untuk kepedihan ku,
dia tidak mungkin dibiarkan lama termangu
di dalam kepedihannya sendiri.
Tetapi, untuk pribadi seperti itu,
bahkan mungkin kepedihannya adalah kebahagiaannya,
karena dengan pedih hatinya –
dia mengerti betapa hati yang sedang bersedih –
membutuhkan uluran tangan yang ramah.
Oh …, sekarang aku mengerti …
Baru membayangkan saja –
bahwa ada tangan yang mengulur ramah kepada ku,
aku telah terangkat dari kesedihan ku,
tanpa betul-betul diangkat.
Aku lebih damai.
Ternyata,
aku bisa tetap merasa damai di atas semua kekurangan,
kelemahan, dan keterpinggiran ku.
Sekarang aku mengerti
bahwa tugas utama ku bukan untuk tidak kekurangan,
bukan untuk tidak lemah, dan bukan untuk diketengahkan;
tugas pertama ku
adalah untuk menjadi pribadi yang damai.
Damai jiwa ku adalah kekayaan ku yang pertama.
Jiwa yang damai adalah kekayaan yang utuh,
yang menjadi sandaran bagi semua kekayaan.
Jika jiwa ku damai,
aku tidak harus memenuhi semua aturan kekayaan
yang dipantaskan oleh orang lain untuk diri mereka.
Dengan jiwa yang damai,
aku menjadi cukup untuk diri ku sendiri,
dan apa pun yang kulakukan setelahnya
adalah untuk kebaikan orang lain.
Sekarang aku tersenyum.
Sekarang aku tahu,
bahwa kesedihan hatiku adalah jalan dari pinggir
untuk menduga-duga arah menuju kebahagiaan ku.
Dalam akal ku yang sekarang terbebas dari mimpi buruknya,
aku melihat bahwa pengertian ku
adalah jalan besar menuju kebahagiaan ku.
Dan dalam pengertian ku yang lebih menerima,
aku tahu bahwa keterbukaan hati
adalah satu-satunya jalan menuju kebahagiaan.
Sekarang aku mengetahui.
Tidak ada kesedihan yang akan berlama-lama
melemahkan ku.
Tidak ada kemarahan yang akan berliar-liar
mempermalukan diri ku.
Dan tidak ada kesombongan yang akan berpalsu-palsu
merendahkan ku.
Sekarang aku tahu.
Hanya orang yang tidak sepenuhnya tahu
yang masih membutuhkan keyakinan.
Dia yang tahu tidak perlu keyakinan,
apalagi diyakinkan.
Dia yang tahu – tahu.
Pengetahuan itu telah cukup baginya.
Dia yang tahu bahwa Tuhan itu ada, … tahu.
Jangan lagi berupaya meyakinkan orang yang tahu.
Tidak ada keyakinan yang lebih kuat
daripada pengetahuan.
Dia yang berpendidikan
tetapi masih membutuhkan peyakinan untuk yakin –
adalah orang yang belum berpengetahuan.
Aku sekarang tahu.
Maka kuat dan damai lah aku.
…….
Entah apa yang telah kau sebabkan pada ku,
tetapi sekarang
pertanyaan yang menjadi kegelisahan utama ku,
tidak lagi menyayat sepedih dulu.
Mengapakah sulit bagi ku untuk merasa damai?
…….
Aku sekarang menjadi heran,
mengapa dulu aku menangis dalam pertanyaan itu?
Ku tak tahu apa yang kau lakukan,
tetapi pembicaraan dengan mu ini
telah memindahkan ku dari lahan rintihan
ke taman pembahagiaan.
Aku berhutang kepada mu.
Aku ingin membayar mu,
tetapi bukan itu yang pantas bagi bayaran mu.
Engkau tak membutuhkan terima kasih ku,
karena engkau menemukan kebahagiaan mu
dalam kebaikan hidup ku.
Maka bayaran dari ku bukanlah bayaran bagi mu.
Dengannya
aku tidak akan pernah bisa membayar mu.
Tetapi aku terlalu berhutang.
Maka aku berjanji kepada Beliau
yang mempertemukan kita,
bahwa aku akan menjadikan diri ku bernilai
agar uluran tangan ku
mendamaikan saudara ku yang hatinya piatu
dalam kesedihannya.
Aku akan menjadikan diri ku pelaku,
pengundang, dan penyemangat
bagi kebaikan saudara-saudara ku.
Aku, pribadi yang damai.
Rencana Allah pasti indah....
Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet. Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini, nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.
"Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil, "Anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. "Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah,dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet. Kemudian ibu berkata,"Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau,tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan. Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah, "Allah, apa yang Engkau lakukan?" Ia menjawab : " Aku sedang menyulam kehidupanmu." Dan aku membantah," Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?
"Kemudian Allah menjawab," Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu dibumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke syurga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu.
"Subhanallah...
Beruntunglah orang2 yang mampu menjaring ayat indah Allah dari keruwetan hidup di dunia ini. Semoga Allah berkenan menumbuhkan kesabaran dan mewariskan kearifan dalam hati hamba-Nya agar dapat memaknai kejadian2 dalam perjalanan hidupnya, seruwet apapun itu. Amin.
"Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil, "Anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. "Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah,dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet. Kemudian ibu berkata,"Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau,tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan. Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah, "Allah, apa yang Engkau lakukan?" Ia menjawab : " Aku sedang menyulam kehidupanmu." Dan aku membantah," Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?
"Kemudian Allah menjawab," Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu dibumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke syurga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu.
"Subhanallah...
Beruntunglah orang2 yang mampu menjaring ayat indah Allah dari keruwetan hidup di dunia ini. Semoga Allah berkenan menumbuhkan kesabaran dan mewariskan kearifan dalam hati hamba-Nya agar dapat memaknai kejadian2 dalam perjalanan hidupnya, seruwet apapun itu. Amin.
Sabtu, Agustus 22, 2009
cinta yang tak pernah terucapkan
Seangkuh itukah aku hingga tak dengarkan bisikanmu
Sepengecut itukah aku hingga terus sembunyi darimu
Sepengecut itukah?
Tidaaaaakkk…….
Cinta maafkan aku yang sedang gundah
Tapi,tahukah kau cinta,hatiku begitu luluh mendengar panggilanmu di HPku
“Halloohh…..!”
Lembut,mesra,seraak,meluruhkan jiwa,mengunci semua kata
Dan melambungkan semua indah lebur dalam pesonamu
Walau hati menjerit “hallooooo cintaaaaa….!!!”
Tapi tak sepatahpun kata terungkap karena ku larut dalam pesonamu
“Ih kok gituh…serius dooong”
“Hallooohh….!”
“Ngomong aja ga` apa-apa kok!”
Tetap saja tak sepatahpun kata meluncur karena tertahan isak yang makin keras
Bersama air mata yang mengalir sungai
Seangkuh itukah aku yang membiarkan jiwa merana karena mencintaimu
Sepengecut itukah aku yang membiarkan tubuh terbaring karena sembunyi darimu
Tapi tetap tak bisaa…katakan aku siapa
Cinta katakan aku siapa
Atau aku akan hilang bersama kesadaran yang makin menghilang
Membawa cinta yang tak pernah terungkap
Atau aku akan hancur bersama tubuh yang kian lemah
Membawa cinta yang tak pernah terucapkan
Sepengecut itukah aku hingga terus sembunyi darimu
Sepengecut itukah?
Tidaaaaakkk…….
Cinta maafkan aku yang sedang gundah
Tapi,tahukah kau cinta,hatiku begitu luluh mendengar panggilanmu di HPku
“Halloohh…..!”
Lembut,mesra,seraak,meluruhkan jiwa,mengunci semua kata
Dan melambungkan semua indah lebur dalam pesonamu
Walau hati menjerit “hallooooo cintaaaaa….!!!”
Tapi tak sepatahpun kata terungkap karena ku larut dalam pesonamu
“Ih kok gituh…serius dooong”
“Hallooohh….!”
“Ngomong aja ga` apa-apa kok!”
Tetap saja tak sepatahpun kata meluncur karena tertahan isak yang makin keras
Bersama air mata yang mengalir sungai
Seangkuh itukah aku yang membiarkan jiwa merana karena mencintaimu
Sepengecut itukah aku yang membiarkan tubuh terbaring karena sembunyi darimu
Tapi tetap tak bisaa…katakan aku siapa
Cinta katakan aku siapa
Atau aku akan hilang bersama kesadaran yang makin menghilang
Membawa cinta yang tak pernah terungkap
Atau aku akan hancur bersama tubuh yang kian lemah
Membawa cinta yang tak pernah terucapkan
jangan tanyakan
Diam dan tertegun saat menatapmu di kaki langit,
Terlintas pikirku mungkin kau memang bukan untukku…
Berulangkali kutanya pada awan,
masih sepadankah aku tetap disampingmu…??
Jangan kau tanya lagi seberapa besar cintaku,
samudera terdalam tak kan bisa membandingkannya…
Lalu kenapa kau bertanya, untuk apa aku masih disini…?
Terlintas pikirku mungkin kau memang bukan untukku…
Berulangkali kutanya pada awan,
masih sepadankah aku tetap disampingmu…??
Jangan kau tanya lagi seberapa besar cintaku,
samudera terdalam tak kan bisa membandingkannya…
Lalu kenapa kau bertanya, untuk apa aku masih disini…?
Harus yakin
Aku bisa. Itu yang sudah ku tanamkan dalam otak dan pikiranku. Walau tak hanya itu saja.Aku harus terus berjuang. Lima bulan ini saja berusahalah secara maksimal! Kamu pasti bisa!!
Biarkan aku disini mendengarkanmu
Biarkan aku disini jadi pendengarmu
ceritakan semua keluh kesahmu
biarkan aku ikut menjadi orang ketiga dalam kehidupanmu
ikut tersenyum bersama cerita konyol
dan menangis dalam sedihmu
Biarkan aku disini jadi pendengarmu
memperhatikan tiap gerak bibirmu
mencoba mengerti apa yang kau rasakan
dalam tiap kata yang keluar dari mulutmu
Biarkan aku disini jadi pendengarmu
karena mungkin hanya itu yang bisa kulakukan untukmu
menghapus rasa cinta yang harusnya tak ada
diantara gema suaramu yang makin menyadarkanku
bahwa aku tak pantas untukmu
ceritakan semua keluh kesahmu
biarkan aku ikut menjadi orang ketiga dalam kehidupanmu
ikut tersenyum bersama cerita konyol
dan menangis dalam sedihmu
Biarkan aku disini jadi pendengarmu
memperhatikan tiap gerak bibirmu
mencoba mengerti apa yang kau rasakan
dalam tiap kata yang keluar dari mulutmu
Biarkan aku disini jadi pendengarmu
karena mungkin hanya itu yang bisa kulakukan untukmu
menghapus rasa cinta yang harusnya tak ada
diantara gema suaramu yang makin menyadarkanku
bahwa aku tak pantas untukmu
Lima huruf itu
aku hanya bisa terpaku disini. Ingin rasanya menangis namun air mata ini tak kuasa untuk jatuh, lagi pula memang tak ada alasan logis untukku menangis. Kenapa ini?lagi lagi tentang cinta. Ah megh kamu tak benar-benar apa makna kata itu. Lima huruf yang istimewa. Dengan lima huruf itu aku bisa ada disini, bisa merasakan yang ada padaku saat ini, Ketika aku bersama Tuhanku, bersama kedua orang tuaku, adikku saudara dan teman-temanku, aku begitu mengenal lima huruf itu.Namun ketika bersama dia aku seakan lumpuh dan tak benar-benar mengerti tentang lima huruf itu. Dada yang berdegup,melakukan tindakan yang kadang aneh, senyum-senyum sendiri..hahah kadang aku berpikir mungkin aku sudah gila..
Sebenarnya bukan dia yang membuatku seperti ini,tapi aku sendiri penyebabnya.Seandainya aku bisa menjaga perasaanku, tak meledak-ledak dalam menanggapi sesuatu, mungkin tak akan ada cerita aku mengungkapkan perasaan ini padanya dulu, cukup aku menyimpan dalam hati saja. Namun aku bersyukur kok akan semuanya sampai saat ini. Bahkan aku tak menyangka si dia juga bisa bilang lima huruf itu padaku,awalnya aku tak percaya dan menggangap dia mungkin hanya berniat menyenangkan aku saja anak kecil yang sok tahu tentang dia dan mungkin terlihat solah-olah mengejar cintanya. Tapi untuk selanjutnya aku berusaha berprasangka baik, seperti kata seorang temanyang menyarankan agar aku terus berprasangka baik agar bisa lebih bersikap dewasa.
Oh iya kemaren sore seorang teman berkata padaku " kalau cewe sampai ngungkapin cinta kecowok itu sudah sangat keterlaluan, dia gag sadar kalo dirinya itu cewe,menurutku kalau ada cewe yang sampai nglakuin itu, dia udah dapet nilai minus dimata orang!" Saat dia berkata seperti itu rasany aku ingin berteriak dan menangis " Halo!! aku sudah pernah melakukan hal itu!!" namun tentu saja tak aku lakukan, aku hanya bisa tersenyum, senyum penipu, karena memang ini lah aku,seseorang yang sulit mengungkapkan dan mengekpresikan isi hatinya. Aduh apa bener ya? rasanya jadi malu banget,awal yang salah itu yang slalu kubilang pada diriku sendiri.Tapi sudahlah, biarkan ini menjadi pengalaman hidupku. Menjadi cerita untuk anak cucuku besok yang mulai beranjak remaja.
Sebenarnya bukan dia yang membuatku seperti ini,tapi aku sendiri penyebabnya.Seandainya aku bisa menjaga perasaanku, tak meledak-ledak dalam menanggapi sesuatu, mungkin tak akan ada cerita aku mengungkapkan perasaan ini padanya dulu, cukup aku menyimpan dalam hati saja. Namun aku bersyukur kok akan semuanya sampai saat ini. Bahkan aku tak menyangka si dia juga bisa bilang lima huruf itu padaku,awalnya aku tak percaya dan menggangap dia mungkin hanya berniat menyenangkan aku saja anak kecil yang sok tahu tentang dia dan mungkin terlihat solah-olah mengejar cintanya. Tapi untuk selanjutnya aku berusaha berprasangka baik, seperti kata seorang temanyang menyarankan agar aku terus berprasangka baik agar bisa lebih bersikap dewasa.
Oh iya kemaren sore seorang teman berkata padaku " kalau cewe sampai ngungkapin cinta kecowok itu sudah sangat keterlaluan, dia gag sadar kalo dirinya itu cewe,menurutku kalau ada cewe yang sampai nglakuin itu, dia udah dapet nilai minus dimata orang!" Saat dia berkata seperti itu rasany aku ingin berteriak dan menangis " Halo!! aku sudah pernah melakukan hal itu!!" namun tentu saja tak aku lakukan, aku hanya bisa tersenyum, senyum penipu, karena memang ini lah aku,seseorang yang sulit mengungkapkan dan mengekpresikan isi hatinya. Aduh apa bener ya? rasanya jadi malu banget,awal yang salah itu yang slalu kubilang pada diriku sendiri.Tapi sudahlah, biarkan ini menjadi pengalaman hidupku. Menjadi cerita untuk anak cucuku besok yang mulai beranjak remaja.
Jumat, Agustus 14, 2009
pembicaraan dengan Bu pesimis!!
Jumat, 14 Agustus 2oo9 11.54
Tadi pagi baru saja menyadari kalau selama ini belum dewasa, masih sering melakukan hal-hal yang disukai saja, tidak berfikir panjang ..masih sangat belum dewasa...
pemikiran tadi nampaknya membuat aku seakan baru saja terbangun " HALO MEGH!!! kamu itu udah gede lohh!! udah bukan anak kecil lagi,udah kelas 3 SMK..hampir lulus!!"
Trus kalau udah lulus mau ngapain megh?
hay megh! bukannya selama ini kamu udah nentuin tujuan kamu yang udah runtut itu..
Lulus mau nyoba tes perguruan tinggi yang beasiswa, dan cari peruntungan untuk kerja..semua udah jelas kan?
" lah kalau keterima beasiswa di perguruan tinggi dan keterima kerja, kalau enggak mau ngapain\?Lulus smk mau nganggur??"
Hey bu!! jangan pesimis gitu to!! kamu itu muncul dari mana sih? tiba-tiba datang menggoyahkan keyakinanku!! aku ingin kuliah, jika tak bisa masuk ke fakultas yang ku inginkan aku mau bekerja dulu!!!aku bisa kok..aku akan berjuang!!
" hah? anak dengan peringakat 27 ...ingat itu..peringkat dua puluh tujuh di kelas mau kuliah..kuliah dimana? bukankah ibumu sendiri tak mendukungmu untuk melanjutkan pendidikan ke universitas yang kamu inginkan itu?karena dia tahu kamu itu tak mampu!!"
"ya aku tahu itu..tapi itu bukan menjadi penghalangku..aku bisa!! aku akan berjuang!!akan aku buktikan...soal hasil aku akan serahkan pada-Nya..aku pasrahkan semua...tapi aku akan tetap berjuang!!!meganingtyas bukan seorang yang lemah!!! Satu lagi jangan bilang aku tak mampu!!! mungkin saat ini aku belum mampu tapi aku bisa kok dan aku yakin!!!Aku akan berjuang demi Dia, orang tua, orangorang disekitarku ...aku ingin jadi bermanfaat bagi mereka!!! akan ku buktikan!!!
Tadi pagi baru saja menyadari kalau selama ini belum dewasa, masih sering melakukan hal-hal yang disukai saja, tidak berfikir panjang ..masih sangat belum dewasa...
pemikiran tadi nampaknya membuat aku seakan baru saja terbangun " HALO MEGH!!! kamu itu udah gede lohh!! udah bukan anak kecil lagi,udah kelas 3 SMK..hampir lulus!!"
Trus kalau udah lulus mau ngapain megh?
hay megh! bukannya selama ini kamu udah nentuin tujuan kamu yang udah runtut itu..
Lulus mau nyoba tes perguruan tinggi yang beasiswa, dan cari peruntungan untuk kerja..semua udah jelas kan?
" lah kalau keterima beasiswa di perguruan tinggi dan keterima kerja, kalau enggak mau ngapain\?Lulus smk mau nganggur??"
Hey bu!! jangan pesimis gitu to!! kamu itu muncul dari mana sih? tiba-tiba datang menggoyahkan keyakinanku!! aku ingin kuliah, jika tak bisa masuk ke fakultas yang ku inginkan aku mau bekerja dulu!!!aku bisa kok..aku akan berjuang!!
" hah? anak dengan peringakat 27 ...ingat itu..peringkat dua puluh tujuh di kelas mau kuliah..kuliah dimana? bukankah ibumu sendiri tak mendukungmu untuk melanjutkan pendidikan ke universitas yang kamu inginkan itu?karena dia tahu kamu itu tak mampu!!"
"ya aku tahu itu..tapi itu bukan menjadi penghalangku..aku bisa!! aku akan berjuang!!akan aku buktikan...soal hasil aku akan serahkan pada-Nya..aku pasrahkan semua...tapi aku akan tetap berjuang!!!meganingtyas bukan seorang yang lemah!!! Satu lagi jangan bilang aku tak mampu!!! mungkin saat ini aku belum mampu tapi aku bisa kok dan aku yakin!!!Aku akan berjuang demi Dia, orang tua, orangorang disekitarku ...aku ingin jadi bermanfaat bagi mereka!!! akan ku buktikan!!!
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Bagi beberapa orang bertemu dokter gigi adalah hal yang mengerikan. Itu berlaku juga bagi saya. Saya jarang sekali ke dokter gigi. :'( k...
-
Halo apa kabar? Semoga selalu sehat dan diberikan ketenangan serta kedamaian ya. Kali ini saya mau bahas tentang makanan gizi seimbang . Top...
-
Alhamdulillah saya baru saja melaksanakan pernikahan pada tanggal 29 Desember 2020 lalu. Proses nikah jadi spesial berbeda di masa pandemi s...